Laporan Kimia Larutan Penyangga (Buffer)
I.
JUDUL
Laporan Praktikum Kimia Larutan Penyangga
II.
TUJUAN
Mengetahui sifat
larutan penyangga dan larutan bukan penyangga pada penambahan sedikit asam,
basa, atau pengenceran.
III.
DATA PENGAMATAN
|
Larutan yang diuji
|
pH mula-mula
|
pH setelah ditambah HCl
|
pH setelah ditambah NaOH
|
pH setelah diencerkan
|
|
NaCl
|
7
|
4
|
9
|
7
|
|
CH3COOH +NaCH3COO
|
4
|
4
|
4
|
4
|
|
NH3 + NH4Cl
|
10
|
10
|
10
|
10
|
IV.
PEMBAHASAN
·
Dasar Teori
Larutan penyangga atau dikenal juga dengan nama larutan buffer adalah
larutan yang dapat mempertahankan nilai pH apabila larutan tersebut ditambahkan
sejumlah asam atau basa maupun diencerkan dengan menambah sejumlah volume air.
Sifat Larutan Penyangga
Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar merupakan suatu larutan
yang dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol
dari larutan penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya berubah sedikit
pada penambahan sedikit asam kuat. Disamping itu larutan penyangga merupakan
larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya
ataupun oleh basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi ini disebut sebagai
reaksi asam-basa konjugasi. Disamping itu mempunyai sifat berbeda dengan
komponen-komponen pembentuknya.
Komponen Larutan Penyangga
Secara umum, larutan penyangga digambarkan sebagai campuran yang terdiri
dari:
- Asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (ion A-), campuran ini menghasilkan larutan bersifat asam.
- Basa lemah (B) dan basa konjugasinya (BH+), campuran ini menghasilkan larutan bersifat basa.
Komponen larutan penyangga terbagi menjadi:
1. Larutan penyangga yang bersifat asam
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk
mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang
merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan
suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam
jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa
konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang
digunakan seperti natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain.
2. Larutan penyangga yang bersifat basa
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk
mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya
berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu
basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebih.
·
Analisis Data
1.
Bagaimana perubahan pH pada data larutan berikut :
A.
NaCl
B.
CH3COOH
+ NaCH3COO
C.
NH3
+ NH4Cl
Jawab : A. apabila
ditambah HCl = 4, ditambah NaCl = 9, ditambah Aquadest = 7
B.
apabila ditambah HCl, NaCl, Aqadest sama-sama memiliki pH = 4
C.
apabila ditambah HCl, NaCl, Aqadest sama-sama memiliki pH = 10
2. Diantara
larutan yang diuji, manakah yang dapat memertaankan pH ?
Jawab : CH3COOH + NaCH3COO dan NH4OH + NH4Cl
3. Termasuk jenis larutan penyangga apakah CH3COOH + NaCH3COO dan NH3
+ NH4Cl, bagaimana komponen penyusunnya masing-masing ?
4. Bagaimana cara
kerja dari system larutan yang dapat mempertahankan harga pHnya jika ke dalam larutan tersebut ditambah sedikit asam,
sedikit basa, maupun sedikit diencerkan?
Jawab : jika kedalam larutan
penyangga bersifat asam ditambahkan sedikit asam kuat, asam kuat akan bereaksi
dengan garam. Sehingga asam kuat akan diubah mnjadi netral dan asam lemah.
Pengaruh asam kuat mejadi sangat kecil. Jika kedalam larutan penyangga bersifat
asam ditabahkan sedikit basa kuat. Basa kuaat akan bereakasi dengan asam lemah
membentuk garam. Pengaruh basa kuat menjadi sangat kecil. Demikian pula yang
terjadi paada larutan penyangga yang bersifat basa.
V.
KESIMPULAN
Larutan penyangga yang bersifat asam
terbentuk dari asam lemah dan basa konjugasi atau garamnya. Sedangkan larutan
penyangga bersifat basa terbentuk dari campuran basa lemah dan asam konjugasi
atau garamnya.
VI.
LAMPIRAN
Komentar
Posting Komentar